Jumat, 17 Mei 2013

SABILULUNGAN SIB!!



Pekan minggu ini manajemen Persib sedang dipusingkan oleh beberapa keluhan bobotoh, khususnya kepada Panitia penyelenggara pertandingan. Berbagai macam kritikan dan saran menjadi sarapan di setiap harinya. Anggapan mereka terhadap kinerja panpel dianggap kurang serius dalam memberi kenyamanan khususnya kepada penonton yang menyaksikan langsung pertandingan. Seperti disinyalir di beberapa jaringan sosial, banyak sekali mereka membeberkan keluhannya langsung kepada Panpel, entah itu dari segi pendistribusian tiket yang masih dipegang oleh calo, sampai kepada fasilitas yang tidak memfasilitasi mereka. Seperti kasus pembelian tiket yang hanya bisa berdiri menyaksikan pertandingan maupun ketidakaturan nomor kursi yang duduk tidak berdasarkan nomor tiket duduknya.
Berangkat dari sanalah, penulis mencoba memberikan sedikit masukan kepada Panpel terhadap sistem pertiketan tersebut. Sebetulnya, tidak ada yang salah dalam sistem tiket ini. pendistribusian tiket bisa dikatakan baik. Mendistribusikan tiket kepada distrik-distrik organisasi supporter persib; kepada media elektronik seperti Bobotoh FM bahkan langsung di loket stadion, merupakan cara yang efektif, walau pun tetap saja bisa dikatakan Calo lebih pintar dalam menyingkapi hal ini.
Mengenai persoalan calo, penulis tidak menjamin jika pemberantasan calo merupakan tindakan yang efektif, karena bagaimanapun keberadaan calo bisa dikatakan sejajar mahluk gaib. Mereka terlihat hanya di stadion, sedangkan disaat mereka membeli, mereka tidak terlihat. Pembatasan pembelian tiket pun mungkin sudah dilakukan oleh manajemen PANPEL kepada distributor resmi. Tapi ya begitulah calo, selalu saja pintar untuk mencari keuntungan. Seperti yang dikeluhkan oleh para bobotoh, keuntungan yang mereka ambil benar-benar dibatas kewajaran, sampai di beberapa pertandingan penting, kenaikan 2x lipat dari harga asli pun sering dilakukan oleh para calower. Oleh karena itu, wajar sekali jika Bobotoh muak dengan hal demikian. Dan mengenai permasalahan calo ini, sudah saya bahas. Silahkan cek saja. “PERSIB BOBOTOH dan Calo”
Selanjutnya, mengenai fasilitas yang ada malah tidak memfasilitasi. Sebelumnya, kita rucutkan kepada sistem tiket. Permasalahan ini selalu saja ada, bahkan seringkali menjadi topik. Bahkan beberapa media cetak memberitakan adanya kerusakan di Stadion. Tidak menutup kemungkinan, adanya kerusakan ini diakibatkan oleh mebludaknya penonton yang melebih kapasitas stadion. Tapi yang mesti digaris bawahi adalah bukan kepada kapasitas stadionnya, melainkan kepada manajemen PANPEL sendiri dalam menyelenggarakan pertandingannya. Sebagai contoh jika kapasitas stadion khususnya di salah satu tribun 1000 orang, lalu tribun itu menampung 2000 orang, maka tidak menutup kemungkinan penyebabnya adalah adanya “kebocoran”. Apa penyebabnya, yang jelas keberadaan oknum adalah penyebabnya. Oleh karena itu, pembahasan mengenai masalah ini harus sering dievaluasi. “Emhh kalau tidak dibahas nanti malah keasikan oknumnya.”
Beberapa penyebab ini sebetulnya satu, “Ketidaktegasannya Panpel terhadap Oknum yang hidup di dalamnya.” Disini penulis tidak menyalahkan panpel, namun panpel adalah penanggung jawab yang pertama dan mempunyai wewenang untuk menindak para oknum. Penulis hanya menyalahkan oknum saja, entah dari keamanannya, maupun dari bobotohnya sendiri. Karena bagaimanapun ya Oknum sama saja seperti Jurig, sejajarlah dengan calo. Mereka tidak terlihat, walau pergerakan mereka selalu terlihat. Susah untuk diberantas, tapi dibuat malu pasti bisa, kalau sudah malu, ya berharap tidak jadi oknum lagi. Lalu apa solusinya???
Karena mereka tidak terlihat, tapi pergerakannya terlihat, maka Panpel juga harus melakukan beberapa gerakan yang terlihat. Kalau boleh memberikan ide, Sedikit saja saya menggambarkan pergerakan ini “Meni siga densus atuh. Wiosnya … hehe”
Spanduk dipenuhi dengan organisasi persib, tapi sayang panpel belum melihatkan spanduknya. Spanduk ini ditempelkan dibeberapa tribun, apapun kalimatnya tapi harus kepada tujuannya yaitu, memberikan kenyamanan. Sebagai contoh “SABILULUNGAN” bersama-sama untuk membangun kenyamanan didalam stadion, dengan membeli tiket dan duduk berdasarkan no tiket.” Atau salah satu contoh lagi “Beli Tiket, Nonton Persib”. Kedengarannya tidak terlalu penting, namun jika mereka melihat tulisan itu, nanti pun akan terlihat mana oknum dan mana bobotoh.
Yang kedua Persoalan nomor kursi ataupun kursi. Ini tidak akan mungkin menjadi masalah jika tidak ada oknum. Karena itu oknum sesekali bolehlah dikasih penegasan. Penegasan bisa berbagai macam, entah ia dikeluarkan dari lingkungan stadion dan sebagainya. Sebagai contoh, Jika pada saat penonton ingin duduk berdasarkan no kursinya, dan kursinya sudah terisi maka ini tugas panpel untuk membantunya. Disana pasti bakalan terlihat mana oknum dan mana bobotoh. Jika sudah terlihat, ini wewenang panpel entah mengeluarkan oknum tersebut, atau membiarkan oknum tersebut sampai pertandingan selesai dengan menyita no identitas atau apapun yang bisa disita. Cara demikian ini pasti mengeluarkan energi yang lebih, tapi darisanalah panpel dan semuanya, bisa membina para oknum tersebut, dengan mengumpulkan para oknum seusai pertandingan. Kalau udah kaya gini, pasti oknum di penonton ini bakalan kapok, dan si oknum di panpel sendiri pun ya berharap tidak melakukannya lagi.
Bagaimana jika oknum itu aparat?
Ada beberapa cara, salah satunya, kalau panpel serius, kenapa tidak panpel membuat penyelidikan. Seperti pengalaman penulis. Saya pun pernah tidak membeli tiket dan membeli kursi kepada oknum (cuman sekali). Memang enak, harga bisa lebih murah, dan kita bisa duduk. Tapi kalau boleh jujur, lebih nyaman beli tiket dicalo daripada beli kursi ke oknum. Sayang dulu itu, tidak ada kursi. Kalau dulu saja stadion sudah difasilitasi dengan kursi, pasti menonton penuh dengan rasa tegang dan rasa takut. Takut diusir intinya itu. Dan ternyata tidak, soalna tidak ada penegasan ^o^. Namun, ya oknum itu seperti pedagang, dia membutuhkan langganan. Sebagai konsumen dan pedagang, pastinya hubungan komunikasi itu hal yang menjadi syaratnya. Nah dulu, saya meminta nomor handphonenya, dan sempet kita ngobrol. Bahkan ada niat untuk membeli kursi lagi. Jika melihat kepada pengalaman saya, kenapa tidak panpel membentuk penyelidikan, misalnya, panpel menjadi penonton dan pembeli kursi, sehingga panpel sendiri tau, bagaiamana gerakan mereka yang terselubung itu.
Ada beberapa gerakan panpel yang baru yang mesti kita apresiasi. Jika melihat kepada pertandingan pertama diputaran kedua, cukup bagus, ditempatkannya beberapa panpel didalam stadion. Tapi sayangnya sangat sedikit, “lebih banyak setannya soalna ketimbang malaikatna.” Untuk mengatasi ini, kembali kepada kata SABILULUNGAN, bersama-sama memberi kenyamanan.
Seperti yang kita ketahui, PERSIB memiliki beberapa Organisasi supporter. Kenapa tidak, bersama-sama membangun kenyamanan tersebut, mereka pasti tidak hanya menampung keluhan dan aspirasi bobotoh saja, tapi mereka bakalan siap membantu.
Pengurus-pengurus dari organisasi supporter beserta panpel membentuk beberapa satgas, Satgas-satgas ini ditempatkan di luar stadion, pintu gerbang, dan pintu tribun. Teknisnya, pemeriksaan tiket itu dua kali, ketika di gerbang dan di pintu tribun. Biar bobotoh tidak kaget, petugas yang diluar gebang memberitahukan beberapa hal penting. insya Allah oknum akan berkurang.
Namun ini terlalu berlebihan. Tapi apa lagi yang mesti dilakukan panpel selain memberi penegasan kepada oknum. Kalau tidak begini, oknum makin banyak. ada aparat pun ya tetap saja oknum itu hidup. Oleh karena itu, SABILULUNGAN SIB !!! yang akan menjadi solusi terakhir dari masalah panpel ini. Semua pendukung dan pecinta PERSIB berkerja sama dalam membangun kenyamanan ini. lebar soalna lamun engke BLA siga si Jalak Harupat.
Untuk itu, “sok cing saradar geura, cing taat kana aturan piraku kudu dilaporkeun ka KPK mah. Nitip weh sok tong jadi OKNUM, da si oknum tah biangkerokna.” Nyaah ka persib mah make tiket bro, jeung Santun!”
Terimakasih sudah membaca, semoga ada manfaatnya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan. Sekedar memberikan beberapa pemikiran yang timbul dari dasar hati, karena kepedulian kepada situasi sekarang, diajar nulis jeung curcol sih intina mah. (saeutik rada lebay) hehe..
 By : @cariosanaki
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar